1. Status Kepemilikan Formula Produk
Salah satu hal yang paling sering terabaikan adalah siapa sebenarnya pemilik "resep" atau formula produk tersebut. Banyak pabrik maklon yang memberikan formula standar mereka secara gratis, namun jika di kemudian hari Anda ingin pindah pabrik, Anda mungkin tidak diperbolehkan membawa formula tersebut. Hal ini sangat berbahaya karena jika konsumen sudah cocok dengan produk Anda, namun Anda terpaksa mengganti formula di pabrik baru, kualitas dan efikasi produk bisa berubah. Pastikan sejak awal Anda mendiskusikan apakah formula tersebut menjadi hak milik Anda sepenuhnya atau tetap milik pabrik.
2. Minimum Order Quantity (MOQ) dan Skalabilitas
Pebisnis pemula sering kali terlalu bersemangat dan menyanggupi pesanan dalam jumlah besar demi mendapatkan harga per unit yang lebih murah. Padahal, MOQ (Minimum Order Quantity) yang terlalu tinggi bisa menjadi bumerang bagi arus kas (cash flow) Anda jika barang tersebut tidak cepat laku di pasaran. Jangan hanya melihat harga murah, tapi hitung juga kemampuan gudang dan kecepatan tim pemasaran Anda dalam menjual stok tersebut. Pilihlah mitra maklon yang fleksibel dan bisa diajak bertumbuh dari kuantitas kecil terlebih dahulu.
3. Detail Biaya Tersembunyi (Hidden Costs)
Jangan hanya terpaku pada harga "maklon per botol" yang ditawarkan di brosur. Banyak biaya tambahan yang sering kali muncul belakangan dan tidak disiapkan anggarannya oleh pebisnis pemula. Biaya tersebut meliputi biaya pendaftaran BPOM, sertifikasi Halal, desain kemasan, biaya pengiriman dari pabrik ke gudang Anda, hingga biaya pengujian laboratorium berkala. Pastikan Anda meminta rincian biaya yang transparan agar modal yang Anda siapkan tidak habis di tengah jalan hanya untuk mengurus administrasi yang terlewat.
4. Pengurusan HAKI dan Izin Edar

Memiliki produk yang sudah diproduksi pabrik bukan berarti Anda sudah aman berjualan. Banyak pebisnis lupa mendaftarkan mereknya ke HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) sebelum mulai maklon. Jika ternyata nama merek Anda sudah ada yang punya, Anda bisa dituntut atau dipaksa mengganti seluruh kemasan produk yang sudah jadi. Selain itu, pastikan pihak maklon benar-benar mengawal proses pendaftaran nomor registrasi BPOM atas nama perusahaan Anda atau merek Anda, agar produk tersebut legal untuk diedarkan secara luas di pasar.
5. Kontrol Kualitas (Quality Control) yang Konsisten
Meskipun produksi dilakukan oleh pihak lain, tanggung jawab kualitas produk di mata konsumen ada pada merek Anda. Banyak pebisnis yang hanya mengecek kualitas pada sampel pertama atau batch pertama saja. Padahal, konsistensi warna, tekstur, dan aroma produk pada batch kedua, ketiga, dan seterusnya adalah kunci loyalitas pelanggan. Jangan lupa untuk menyepakati standar QC (Quality Control) yang ketat dan prosedur retur jika ditemukan produk yang rusak atau tidak sesuai standar saat barang sampai di tangan Anda.
Social Media