1. Keterbatasan Modal Awal
Salah satu hambatan utama dalam memulai bisnis maklon kecantikan adalah keterbatasan modal. Meskipun tidak perlu membangun fasilitas produksi sendiri, biaya maklon tetap mencakup pengembangan formula, uji laboratorium, perizinan seperti BPOM, desain kemasan, serta minimum order quantity (MOQ). Bagi pemula, total biaya ini sering kali lebih besar dari perkiraan awal. Tanpa perencanaan keuangan yang matang, bisnis dapat terhambat bahkan sebelum produk diluncurkan ke pasar.
2. Kesulitan Menentukan Konsep dan Diferensiasi Produk
Industri kecantikan memiliki tingkat persaingan yang sangat tinggi. Banyak produk dengan klaim dan manfaat serupa beredar di pasaran, sehingga menentukan konsep yang unik menjadi tantangan tersendiri. Calon pemilik brand sering kali bingung memilih jenis produk, bahan aktif, hingga target pasar yang tepat. Tanpa diferensiasi yang jelas, produk maklon berisiko tenggelam di tengah persaingan dan sulit menarik perhatian konsumen.
3. Pemilihan Mitra Maklon yang Tepat
Tidak semua pabrik maklon memiliki kualitas layanan dan standar produksi yang sama. Kesalahan dalam memilih mitra maklon dapat berdampak besar pada kualitas produk, ketepatan waktu produksi, hingga legalitas. Beberapa pelaku usaha pemula kurang teliti dalam meninjau reputasi pabrik, portofolio klien, dan kejelasan kontrak kerja sama. Akibatnya, proses produksi bisa mengalami keterlambatan atau hasil produk tidak sesuai ekspektasi.
4. Proses Perizinan dan Regulasi yang Kompleks
Hambatan lain yang sering ditemui adalah proses perizinan yang cukup rumit dan memakan waktu. Produk kecantikan wajib memiliki izin edar dari BPOM dan memenuhi standar keamanan tertentu. Bagi pemula yang belum memahami regulasi, proses ini bisa terasa membingungkan. Keterlambatan perizinan sering kali membuat peluncuran produk tertunda, sehingga memengaruhi rencana pemasaran dan arus kas bisnis.
5. Tantangan Produksi dan Kualitas Produk

Dalam bisnis maklon, kontrol kualitas menjadi aspek yang sangat penting. Perbedaan hasil produksi, stabilitas formula, atau masalah kemasan dapat memengaruhi kepercayaan konsumen. Beberapa brand owner baru belum terbiasa melakukan uji sampel dan evaluasi produk secara menyeluruh sebelum produksi massal. Akibatnya, masalah kualitas baru disadari setelah produk beredar di pasaran.
6. Strategi Pemasaran yang Belum Matang
Setelah produk selesai diproduksi, tantangan berikutnya adalah pemasaran. Banyak pelaku usaha terlalu fokus pada proses produksi dan lupa menyiapkan strategi promosi yang efektif. Di era digital, pemasaran membutuhkan pemahaman tentang media sosial, branding, dan perilaku konsumen. Tanpa strategi yang tepat, produk maklon yang berkualitas pun bisa sulit dikenal dan dijual.
Social Media