Elmedika Logo

Tantangan Nyata Saat Bangun Brand Lewat Jasa Maklon Skincare

|

Tantangan Nyata Saat Bangun Brand Lewat Jasa Maklon Skincare

Punya impian memiliki brand skincare sendiri? Bisnis maklon skincare bisa jadi jawabannya. Melalui sistem kerja sama dengan pabrik pihak ketiga, siapa pun bisa menghadirkan produk kecantikan berkualitas tanpa harus memiliki pabrik sendiri. Di Indonesia, industri ini berkembang pesat seiring meningkatnya tren perawatan kulit. Meski terlihat mudah, dunia maklon tetap menuntut perencanaan matang dan pemahaman mendalam agar brand yang dibangun bisa bersaing di pasar kecantikan yang kompetitif.

Tantangan Nyata Saat Bangun Brand Lewat Jasa Maklon Skincare

1. Memastikan Kualitas Selalu Konsisten (Quality Control)

Tantangan terbesar yang dihadapi oleh brand yang menggunakan jasa maklon adalah menjaga kualitas produk agar selalu sama (konsisten). Ketika produksi diserahkan ke pabrik lain, kontrol langsung atas proses pembuatan menjadi berkurang.

Masalah sering muncul ketika produk yang dihasilkan pada batch pertama rasanya sempurna, namun pada batch kedua dan seterusnya, kualitasnya mulai menurun. Misalnya, tekstur pelembap tiba-tiba menjadi lebih cair, atau aroma serum sedikit berbeda. Konsistensi ini sangat vital karena dapat memengaruhi kepercayaan pelanggan. Brand harus ekstra hati-hati dan sering melakukan tes acak (sampling) untuk memastikan mitra maklon benar-benar menjaga standar CPKB (Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik) di pabrik mereka.

2. Mengelola Waktu Produksi dan Keterlambatan Pengiriman

Di pasar skincare yang bergerak sangat cepat, waktu adalah uang. Salah satu tantangan paling sering dikeluhkan adalah keterlambatan produksi dan pengiriman dari pihak pabrik maklon.

Pabrik maklon umumnya menangani banyak klien sekaligus. Jika ada satu klien besar yang mendadak menambah pesanan (order), antrean produksi bisa terganggu, menyebabkan brand lain harus menunggu lebih lama. Keterlambatan ini sangat fatal; produk bisa kehabisan stok, promosi yang sudah direncanakan gagal total, dan yang paling parah, pelanggan yang kecewa bisa beralih ke brand lain. Jadi, manajemen waktu dan koordinasi yang baik antara brand dan maklon menjadi sangat sulit dan krusial.

3. Ketergantungan pada Bahan Baku Impor dan Biaya yang Naik Turun

Gambar Story PIN

Meskipun Indonesia kaya akan sumber daya alam, banyak bahan aktif unggulan yang digunakan dalam skincare modern (seperti bahan anti-penuaan atau pencerah tertentu) masih harus diimpor dari luar negeri.

Ketergantungan ini menciptakan tantangan finansial yang besar. Ketika nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing melemah, biaya pembelian bahan baku akan langsung melonjak. Kenaikan biaya ini seringkali tidak terduga, yang memaksa pabrik maklon dan brand harus cepat mengambil keputusan: apakah menaikkan harga jual produk (yang berisiko ditinggal pelanggan) atau menanggung kerugian (margin) yang lebih tipis. Situasi ini membuat perencanaan anggaran menjadi sangat sulit dan penuh risiko.

4. Kerumitan Regulasi BPOM dan Izin Halal

Industri skincare adalah industri yang sangat diatur oleh pemerintah. BPOM memiliki aturan ketat mengenai bahan yang boleh dan tidak boleh digunakan, serta proses notifikasi dan izin edar. Perusahaan maklon harus selalu mengikuti dan beradaptasi dengan peraturan terbaru yang sering berubah.

Tantangan baru yang signifikan adalah kewajiban Sertifikasi Halal yang akan berlaku penuh pada tahun 2026. Pabrik maklon harus memastikan seluruh proses produksi, mulai dari bahan baku, mesin, hingga sistem manajemen, sudah memenuhi standar Halal. Proses legalitas dan sertifikasi ini memakan waktu, biaya, dan memerlukan sumber daya ahli, menjadikannya beban yang cukup berat dalam operasional bisnis maklon.

 

Artikel

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Format: JPG, PNG, GIF. Maksimal 2MB